Pangandaran, JurnalMedia — Tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di RSUD Pandega Pangandaran, Jawa Barat, meningkat tajam dalam dua bulan terakhir. Pada Agustus 2026, BOR rumah sakit tercatat 51,2 persen. Angka itu naik menjadi 76 persen hingga 26 September 2026.
Kepala Bidang Pelayanan Medis RSUD Pandega Pangandaran, dr. Indah Adhiarini Sukma, mengatakan kenaikan BOR antara lain dipengaruhi meningkatnya kasus penyakit infeksi dan gangguan pernapasan.
“Top tiga penyakit dalam terbanyak yaitu pneumonia, anemia, dan chronic obstructive pulmonary disease with acute exacerbation atau PPOK dengan eksaserbasi akut,” kata Indah beberapa waktu lalu.
Pada kelompok pasien anak, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah bronkopneumonia, demam tifoid, dan infeksi bakteri.
Menurut Indah, pasien dengan gangguan pernapasan yang mengalami perburukan membutuhkan pemantauan dan penanganan lebih lanjut sehingga berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap layanan rawat inap.
Kondisi lingkungan turut menjadi perhatian. Pada periode kemarau, udara yang berdebu, asap akibat kebakaran lahan, maupun pembakaran sampah dapat memperburuk penyakit pernapasan. Risiko tersebut terutama dihadapi pasien yang memiliki penyakit penyerta seperti asma dan PPOK.
Selain meningkatnya kasus penyakit, program Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga berkontribusi terhadap penemuan kasus kesehatan yang sebelumnya belum teridentifikasi. RSUD Pandega berkolaborasi dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas, dalam pelaksanaan program tersebut.
Rumah sakit menyiapkan layanan rujukan bagi pasien yang berdasarkan hasil pemeriksaan membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“RSUD Pandega juga berkolaborasi dengan FKTP atau puskesmas terkait program CKG dan rumah sakit mempersiapkan layanan rujukan sebagai fasilitas kesehatan tingkat lanjut,” ujar Indah.
Di sisi lain, peningkatan kapasitas layanan RSUD Pandega membuat lebih banyak pasien dapat memperoleh pelayanan kesehatan di daerahnya. Sejumlah layanan spesialis dan fasilitas penunjang terus dikembangkan, antara lain layanan dialisis, ruang operasi, layanan jantung, serta penataan layanan anak.
“Tentu, kondisi tersebut membuat sebagian pasien yang sebelumnya berpotensi dirujuk ke luar daerah kini dapat memperoleh pelayanan di RSUD Pandega,” kata Indah.
Pemanfaatan layanan jaminan kesehatan, termasuk BPJS Kesehatan, juga turut berkaitan dengan peningkatan kunjungan pasien. Ketika kasus penyakit musiman meningkat, kebutuhan terhadap tempat tidur rawat inap dapat bertambah dalam waktu relatif singkat.
Keterisian tempat tidur tidak hanya dipengaruhi pasien dengan kondisi akut. Pasien yang menjalani tindakan medis terjadwal maupun operasi elektif juga dapat memengaruhi angka BOR.
Meski telah mencapai 76 persen, angka tersebut masih berada dalam rentang yang secara umum masih dapat dikelola rumah sakit. Namun, kenaikan dari 51,2 persen pada Agustus menjadi 76 persen dalam waktu kurang dari satu bulan menjadi kondisi yang perlu diantisipasi.
Indah mengatakan rumah sakit perlu memastikan kapasitas pelayanan tetap sejalan dengan peningkatan jumlah pasien. Hal itu mencakup ketersediaan tempat tidur, kapasitas instalasi gawat darurat, tenaga medis, hingga layanan penunjang.
“Terutama untuk memastikan ketersediaan tempat tidur, kapasitas IGD, tenaga medis, serta layanan penunjang tetap mampu mengikuti peningkatan kebutuhan pasien,” ujar Indah.






