Kesehatan

Program NGOBATAN RSUD Pandega Kupas Tuntas Penanganan Nyeri Leher dan Gangguan Otot

×

Program NGOBATAN RSUD Pandega Kupas Tuntas Penanganan Nyeri Leher dan Gangguan Otot

Sebarkan artikel ini

PANGANDARAN, JurnalMedia – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandega Pangandaran terus mengintensifkan edukasi kesehatan kepada masyarakat melalui program rutin mingguan NGOBATAN (Ngobrol Bareng Seputar Kesehatan). Pada kegiatan yang digelar di ruang tunggu poliklinik itu, rumah sakit mengangkat tema penanganan nyeri leher atau cervical syndrome melalui pendekatan fisioterapi tanpa ketergantungan obat.

Fisioterapis RSUD Pandega Pangandaran, Nuri Syara Lestari, S.FTr, mengatakan keluhan nyeri leher saat ini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif, khususnya rentang usia 30 hingga 50 tahun. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari beban kerja, tingkat stres, hingga kebiasaan postur tubuh yang kurang baik saat menggunakan gawai maupun berkendara.

“Perempuan secara statistik memiliki prevalensi lebih tinggi mengalami nyeri leher karena faktor stres sosiopsikologis yang dapat memicu ketegangan otot,” ujar Nuri dalam sesi edukasi kesehatan yang diikuti puluhan pasien, Kamis 11 Juni 2026.

Menurutnya, masyarakat kerap menganggap nyeri leher hanya disebabkan oleh kebiasaan tidur atau salah posisi bantal. Padahal, secara medis terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu gangguan tersebut.

Baca juga:  Vaksinasi HPV Kuadrivalen, Perlindungan Efektif untuk Kesehatan Jangka Panjang

Empat penyebab utama nyeri leher yang paling sering ditemukan antara lain spasme otot atau ketegangan otot akibat posisi tubuh yang statis dalam waktu lama, saraf terjepit (cervical root syndrome) yang menimbulkan rasa kesemutan hingga menjalar ke tangan, spondilosis atau degenerasi bantalan sendi leher akibat proses penuaan, serta trauma atau cedera yang terjadi karena benturan saat berolahraga maupun kecelakaan.

Sebagai langkah penanganan awal, Nuri menyarankan masyarakat melakukan kompres es pada cedera akut yang terjadi kurang dari 24 jam. Selain itu, peregangan atau stretching leher secara rutin juga dianjurkan untuk menjaga fleksibilitas otot dan mengurangi risiko kekakuan akibat aktivitas sehari-hari.

Untuk mendukung pemulihan pasien, Instalasi Rehabilitasi Medis RSUD Pandega Pangandaran telah dilengkapi berbagai fasilitas dan teknologi fisioterapi. Layanan yang tersedia meliputi taping, Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), terapi laser, dry needling, hingga Microwave Diathermy (MWD).

Baca juga:  Renovasi Rampung, Bupati Ciamis Resmikan Pustu Cintanagara yang Sempat Viral Kumuh dan Rusak

RSUD Pandega juga memberikan kemudahan akses layanan fisioterapi bagi masyarakat. Pasien umum yang membutuhkan rehabilitasi medis maupun terapi pascastroke kini dapat langsung mengakses layanan tanpa harus melalui sistem rujukan berjenjang dari puskesmas.

“Masyarakat dapat langsung mendaftar di bagian administrasi dan menuju Poli Fisioterapi yang berada di Lantai 4 Gedung C RSUD Pandega Pangandaran. Tarif layanan mandiri juga relatif terjangkau, berkisar antara Rp100.000 hingga Rp175.000 per sesi, tergantung jenis tindakan dan alat yang digunakan,” demikian disampaikan pihak manajemen rumah sakit.

Melalui program NGOBATAN, RSUD Pandega Pangandaran berharap masyarakat semakin memahami pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap berbagai gangguan muskuloskeletal, termasuk nyeri leher yang kerap dianggap sepele namun dapat mengganggu aktivitas dan kualitas hidup. (**)