Scroll to Continue
Opini

Urgensi Perubahan Paradigma Konsep Kesehatan

83
×

Urgensi Perubahan Paradigma Konsep Kesehatan

Sebarkan artikel ini
Urgensi Perubahan Paradigma Konsep Kesehatan

JURNALMEDIA.ID –  Urgensi Perubahan Paradigma Konsep Kesehatan menjadikan kata “Sehat itu mahal”, sering terucap di masyarakat yang menunjukan pentingnya hidup sehat. Sangat terasa mahalnya untuk bisa sehat terutama zaman sekarang untuk mendapatkan jaminan kesehatan. Dimana swasta memegang kendali kesehatan, kita harus membayar premi asuransinya tiap bulan untuk mendapatkan akses kesehatan melalui berbagai produk asuransi kesehatan.

Menurut Ummu Fahhala
Seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi, Saat ini, untuk membantu mengatasi masalah kesehatan warga Jawa Barat, salah satu solusinya adalah asuransi. Dengan memilih produk asuransi yang tepat, masyarakat bisa mendapatkan akses yang lebih mudah ke layanan kesehatan berkualitas dan meringankan beban keuangan keluarga. (29/05/2024)

Jika akses kesehatan berkualitas akan didapatkan dengan mudah jika ikut dalam asuransi, maka bagaimana nasib rakyat miskin yang tidak ikut asuransi karena keterbatasan ekonomi dan tidak mampu membayar premi? tentu berpotensi akan kehilangan kemampuan mengakses pelayanan kesehatan hingga bayang-bayang kematian menghampiri.

Ini menjadi kekhawatiran bagi kita, karena kesehatan adalah kebutuhan pokok masyarakat, sehingga perlu sistem yang bisa mewujudkan keadilan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas bagi seluruh masyarakat secara merata.

BACA JUGA :   Demi Percepatan Pembangunan Jabar Mekarkan 9 Kabupaten

Faktanya, selama masih menerapkan sistem sekulerisme kapitalisme, negeri ini akan terus dalam kondisi darurat kesehatan dan konsep kesehatan yang salah. Menurut konsep kesehatan kapitalistik, pelayanan kesehatan sangat mahal, tetapi belum tentu juga berkhasiat pada kesembuhan akibat sudah terindustrialisasi. Berbagai produk obat-obatan terus diproduksi tanpa diimbangi dengan upaya pemerintah menyejahterakan rakyat.

Misalnya, masyarakat dicekoki dengan berbagai obat atau vitamin yang diyakinkan dapat menjaga kesehatan tubuh. Tetapi dengan kebiasaan makanan (food habits) kapitalistik yang miskin mikronutrien, bahkan mirisnya dengan kondisi masyarakat yang miskin tidak bisa mendapatkan makanan sama sekali untuk kehidupan sehari-harinya, maka akan sia-sia. Sehingga jelas, bahwa konsep kesehatan dalam sistem sekuler kapitalistik memang fokus pada keuntungan, bukan dalam rangka mengobati atau menyehatkan masyarakat.

Jika pemerintah tulus menyehatkan masyarakat, seharusnya mereka memegang kendali secara penuh dalam memenuhi hajat hidup secara berkelanjutan. Konsep preventif yang diterapkan harus dilangsungkan pada sistem kehidupan yang bersifat menyejahterakan. Kesehatan adalah hak semua warga, bukan demi cuan dalam memenuhi kantong-kantong pengusaha di bidang kesehatan.

BACA JUGA :   Mengatasi Pengangguran: Perspektif Islam dalam Mewujudkan Kesejahteraan Umat

Konsep Kesehatan Islam

Konsep kesehatan dalam Islam dibangun atas paradigma politik kesehatan Islam, yakni pengurusan kepentingan kesehatan manusia dalam sudut pandang Islam dalam memenuhi kesehatan manusia dengan landasan akidah Islam, sesuai aturan Allah Swt untuk kebahagiaan dan kesehatan jiwa pada pemeluknya.

Penguasa menerapkan politik kesehatan Islam sesuai hukum syariat dengan tujuan meraih rida Allah Swt. Sistem Islam akan mengupayakan dengan segenap kemampuan dan kesungguhan memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk seluruh masyarakat.

Sistem Islam memberikan pelayanan kesehatan secara gratis bagi seluruh rakyatnya. Tidak membebani rakyat dengan membayar kebutuhan layanan kesehatan sedikit pun. Dahulu, Rasulullah Saw. pernah menjamin kesehatan rakyatnya dengan mengirimkan dokter pribadi yang dihadiahkan oleh Raja Muqauqis dari Mesir, kepada rakyat yang sakit tanpa pungutan biaya. (An-Nabhani, Muqadimmah ad-Dustur, II/143)

Meski gratis, pelayanan kesehatannya diberikan dengan optimal dan prima, tidak asal-asalan. Karena telah menjadi kewajiban negara untuk menjamin kebutuhan pokok rakyat, termasuk kesehatan. Tidak boleh mengalihkan tanggung jawab tersebut kepada swasta melalui asuransi, apalagi individu rakyat yang harus menanggung sendiri.

BACA JUGA :   Promosikan IKN Gaet Influencer

Rasulullah saw. Bersabda dalam HR Ibnu Majah dan Ahmad, “Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri maupun bahaya bagi orang lain di dalam Islam.” Hadis ini menunjukkan bahwa negara adalah ra’in yang memiliki tanggung jawab secara penuh dalam menghilangkan bahaya yang dapat mengancam keselamatan rakyatnya. Tidak boleh mempertaruhkan keselamatan rakyat dengan memberikan kesempatan kepada pihak tertentu untuk mengambil keuntungan yang bersifat materi.

Dalam hal ini, sistem Islam akan menyediakan dana dari Baitulmal untuk membiayai kebutuhan rakyat dalam bidang kesehatan. Sektor kesehatan tidak akan menjadi lahan bancakan karena penguasa dalam sistem Islam memahami bahwa setiap nyawa manusia sangat berarti di hadapan Allah Swt, dan amanah kepemimpinannya akan dihisab atau dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Sehingga hanya dengan penerapan Islam secara keseluruhan melalui perubahan paradigma konsep kesehatan yang mengedepankan pelayanan untuk keselamatan jiwa masyarakat, maka akses terhadap pelayanan kesehatan berkualitas bisa dengan mudah didapatkan oleh masyarakat secara merata.