Scroll to Continue
Berita

Kisah Tragis Ida Nuraida yang Hidup di Rumah Tak Layak Huni Bersama Dua Anak

115
×

Kisah Tragis Ida Nuraida yang Hidup di Rumah Tak Layak Huni Bersama Dua Anak

Sebarkan artikel ini

PANGANDARAN, JURNALMEDIA.ID – Nasib malang menimpa Ida Nuraida, seorang janda berusia 45 tahun di Pangandaran yang harus tinggal di rumah tak layak huni bersama dua anak kecilnya. Ida yang baru saja bercerai setahun lalu merupakan salah satu warga di RT 1/1 Dusun Sopla, Desa Karangmulya, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Kondisi rumah tanpa atap ini sangat memprihatinkan, dengan banyak puing bangunan berserakan di sekitar rumah. Dinding tembok banyak yang jebol atau roboh akibat tiga kali diguncang gempa bumi. Ida juga tidak memiliki fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) sehingga harus berjalan kaki sekitar 50 meter untuk mendapatkan air bersih.

Kehidupan Sehari-hari di Rumah Tak Layak Huni

Ida bersama kedua anaknya tidur di dapur berukuran sekitar 3 x 3 meter yang dipenuhi perabotan rumah tangga dan pakaian anak-anaknya. Dapur ini beratapkan seng yang sudah rusak, sehingga saat hujan deras, air masuk ke ruangan tempat tidur mereka.

BACA JUGA :   Relawan Abimah Tos Soleh Pangandaran Salurkan Ribuan Liter Air Bersih di Desa Cintakarya

“Kalau hujan deras, air banyak masuk. Anak-anak sering bangun malam karena kecipratan air hujan dan takut dinding tembok roboh,” ujar Ida.

Rumah kecil ini dibangun sejak suaminya masih ada, namun karena keterbatasan anggaran, rumah tersebut dibangun tanpa pondasi. Setelah dibangun, atapnya ambruk dan disusul gempa bumi yang membuat dinding tembok banyak yang ambrol.

Upaya Bertahan Hidup di Tengah Kemiskinan

Meskipun rumahnya pernah diajukan untuk program Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni), hingga kini bantuan tersebut belum terealisasi. Ida harus berjalan kaki untuk mandi dan mencuci di tempat yang dibangun oleh Pemerintah Desa, meskipun merasa malu pada tetangga.

Selain harus tinggal di rumah yang tidak layak, Ida juga harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan pokok dan biaya sekolah kedua anaknya.

“Pendapatan saya tidak tentu, kadang dapat Rp 25 ribu dari kerja di rumah tetangga. Itu juga kalau disuruh,” ungkapnya.

BACA JUGA :   Kapolres Pangandaran Pimpin Upacara Korps Raport Kenaikan Pangkat Pengabdian

Ida juga menerima bantuan dari pemerintah berupa Program Keluarga Harapan (PKH) dan beras sebanyak 10 kilogram per bulan.

“Namun, bantuan tersebut sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Anak-anaknya kadang harus mencari rongsokan di lingkungan sekitar untuk dijual demi uang jajan,” terangnya.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Dengan kondisi ekonominya yang serba kekurangan, Ida tetap berupaya agar kedua anaknya bisa bersekolah.

“Pendapatan kerja saya tidak tentu, kadang kalau disuruh nyuci sampai malam saya dikasih Rp 25 ribu, kalau disuruh pijat dikasih Rp 50 ribu. Ya, itu tergantung orangnya,” ucapnya.

Ida berharap agar rumahnya bisa segera dibangun kembali agar layak ditempati, aman untuk anak-anaknya, dan bisa digunakan untuk belajar dan sembahyang.

“Kalau hujan sering bocor dan aku takut dindingnya ambruk,” ungkapnya.

BACA JUGA :   Kota Banjar Jadi Tuan Rumah Pertandingan Sepak Bola Puteri PORPROV ke XIV

Upaya Pemerintah Desa dan Masyarakat

Kepala Desa Karangmulya, Wahyuman menyatakan bahwa pihak Desa sudah mengusulkan bantuan ke berbagai pihak, namun hingga kini belum terealisasi.

“Kondisi rumah yang ditempati Ida dan kedua anaknya sudah rata karena ambruk,” katanya.

Pemerintah Desa bersama warga sekitar telah berinisiatif membongkar bagian-bagian rumah yang berpotensi ambruk demi keselamatan penghuni.

“Sebagian dinding rumah kita bongkar supaya tidak terlalu membahayakan. Daripada nanti ambruk menimpa penghuni, kan lebih parah,” ujar Wahyuman.

Kesimpulan

Kisah Ida Nuraida merupakan potret nyata perjuangan seorang ibu dalam menghadapi kehidupan yang keras. Di tengah keterbatasan dan kondisi rumah yang tak layak huni, Ida tetap berusaha keras demi masa depan kedua anaknya. Dukungan dari berbagai pihak sangat diperlukan untuk membantu Ida dan anak-anaknya mendapatkan tempat tinggal yang layak dan kehidupan yang lebih baik.