PANGANDARAN, JurnalMedia – Suasana ruang tunggu RSUD Pandega Pangandaran pagi itu tampak berbeda dari biasanya. Jika umumnya dipenuhi warga yang menanti giliran pemeriksaan kesehatan, kali ini puluhan masyarakat duduk khusyuk memperhatikan layar presentasi yang menampilkan informasi tentang bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD).
Melalui kegiatan sosialisasi bertajuk “Tanda Bahaya Demam Berdarah Dengue (DBD)”, rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut berupaya meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait penyakit yang hingga kini masih menjadi ancaman serius di berbagai wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Pangandaran.
Dokter umum RSUD Pandega, dr. Clarisa Vernia Setiawan, menjelaskan bahwa DBD kerap dianggap sebagai demam biasa pada fase awal sehingga banyak pasien terlambat mendapatkan penanganan medis.
“DBD bukan sekadar demam tinggi yang bisa reda dengan sendirinya. Ada fase kritis yang justru sering mengecoh keluarga pasien karena suhu tubuh tampak menurun, padahal kondisi tubuh sedang berada pada titik yang harus sangat diwaspadai,” ujar dr. Clarisa saat memberikan pemaparan.
Menurutnya, fase kritis umumnya terjadi pada hari keempat hingga keenam sejak gejala awal muncul. Pada fase ini, kebocoran plasma darah dapat terjadi dan memicu komplikasi serius bila tidak segera ditangani.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak lengah ketika demam turun secara mendadak, terutama jika disertai tanda-tanda seperti nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan seperti mimisan, tubuh lemas, hingga penurunan kesadaran.
“Banyak keluarga mengira pasien membaik saat panas turun. Padahal justru saat itulah alarm bahaya harus dinyalakan. Segera bawa ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala tersebut,” tegasnya.
Kasus DBD masih menjadi perhatian serius secara nasional. Jawa Barat termasuk salah satu provinsi dengan angka kejadian cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Di Pangandaran, karakteristik wilayah tropis pesisir dengan curah hujan yang fluktuatif, ditambah banyaknya genangan air alami maupun buatan, menjadi lingkungan ideal bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, vektor utama penyebaran virus dengue.
dr. Clarisa menjelaskan bahwa nyamuk penyebab DBD berbeda dari nyamuk biasa. Secara fisik, nyamuk ini berwarna hitam dengan garis-garis putih khas pada kaki dan tubuhnya.
“Nyamuk ini justru menyukai air bersih yang tenang. Tempat seperti dispenser, tatakan pot bunga, bak mandi, hingga ban bekas yang menampung air bisa menjadi lokasi favorit berkembang biak,” jelasnya.
Dalam sosialisasi tersebut, RSUD Pandega menekankan pentingnya penerapan 3M Plus sebagai langkah pencegahan yang lebih komprehensif.
Selain Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat wadah air, dan Mendaur ulang barang bekas, unsur “Plus” mencakup:
- Menaburkan larvasida atau bubuk abate pada tempat air yang sulit dikuras
- Memelihara ikan pemakan jentik
- Memastikan saluran air tidak tersumbat
- Menanam tanaman pengusir nyamuk seperti serai dan lavender
- Menggunakan kelambu atau lotion antinyamuk bila diperlukan
Menurut dr. Clarisa, pencegahan hanya akan efektif bila dilakukan secara konsisten oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Pemberantasan sarang nyamuk tidak bisa dilakukan sesekali. Ini harus menjadi kebiasaan bersama,” katanya.
Warga Antusias Bertanya
Sesi diskusi interaktif menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap ancaman DBD.
Seorang warga asal Cijulang menanyakan ciri paling mudah mengenali nyamuk Aedes aegypti, sementara warga lain dari Parigi berbagi pengalaman pernah terserang DBD dan menanyakan risiko infeksi kedua.
Menjawab pertanyaan tersebut, dr. Clarisa menjelaskan bahwa seseorang yang pernah terinfeksi dengue tetap berisiko terkena kembali oleh serotipe virus berbeda, bahkan dengan kemungkinan komplikasi lebih berat seperti Dengue Shock Syndrome (DSS).
“Infeksi kedua bisa lebih berbahaya. Karena itu, meskipun pernah sembuh dari DBD, kewaspadaan harus tetap tinggi,” jelasnya.
Melalui tim promosi kesehatannya, RSUD Pandega menegaskan bahwa rumah sakit tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, tetapi juga pusat edukasi kesehatan masyarakat.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam menekan angka kesakitan dan kematian akibat DBD melalui peningkatan kesadaran sejak dini.
Pihak rumah sakit berharap edukasi semacam ini mampu mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah.
Pangandaran sebagai daerah wisata unggulan, kata mereka, harus mampu menjaga kesehatan lingkungannya dari ancaman penyakit menular seperti DBD.
Sebab pada akhirnya, melawan demam berdarah bukan hanya tugas tenaga kesehatan, melainkan tanggung jawab bersama yang dimulai dari langkah sederhana: memastikan tidak ada ruang bagi nyamuk berkembang biak di sekitar rumah. (**)






