PANGANDARAN, JurnalMedia – Bagi sebagian orang, bernapas adalah proses alami yang nyaris tak disadari. Namun bagi penyintas asma dan gangguan pernapasan kronis, setiap tarikan napas bisa menjadi perjuangan panjang yang dipenuhi rasa cemas, sesak, dan ketidakpastian.
Di tengah kondisi tersebut, momentum Hari Asma Sedunia 2026 dimanfaatkan RSUD Pandega Pangandaran untuk memperkuat edukasi publik bahwa asma bukanlah akhir dari kehidupan aktif dan produktif seseorang.
Melalui kampanye kesehatan yang digaungkan pekan ini, manajemen RSUD Pandega Pangandaran menegaskan bahwa pengidap asma tetap dapat menjalani aktivitas normal apabila penyakitnya dikelola secara tepat dan berkelanjutan. Pesan itu disampaikan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengendalian penyakit pernapasan kronis sejak dini.
“Asma bukan halangan untuk tetap hidup aktif dan produktif, selama dikelola dengan baik,” tulis manajemen RSUD Pandega dalam keterangan resminya.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah masih tingginya angka penderita asma yang belum mendapatkan penanganan optimal, terutama di wilayah daerah yang menghadapi tantangan akses layanan kesehatan. Tidak sedikit pasien yang datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi serangan akut akibat keterlambatan penanganan, kurangnya pemahaman mengenai penyakit, hingga rendahnya kepatuhan menjalani terapi.
Asma sendiri merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang dapat menyebabkan sesak napas, batuk, dada terasa berat, hingga mengi. Serangan asma dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari polusi udara, asap rokok, debu rumah tangga, bulu hewan, udara dingin, infeksi saluran napas, hingga aktivitas fisik berlebihan tanpa pengelolaan yang tepat.
Dalam banyak kasus, persoalan terbesar bukan hanya terletak pada penyakit itu sendiri, tetapi pada kurangnya kesadaran pasien mengenali faktor pencetus serangan. Kondisi ini diperparah oleh kebiasaan menghentikan pengobatan ketika gejala mulai mereda, padahal pengendalian asma membutuhkan terapi jangka panjang dan pemantauan rutin.
Tema Hari Asma Sedunia tahun ini menyoroti pentingnya akses terhadap inhaler anti-inflamasi sebagai kebutuhan mendesak bagi pasien asma. Penggunaan inhaler secara tepat dinilai mampu menekan risiko serangan berat sekaligus menjaga kualitas hidup pasien agar tetap stabil.
RSUD Pandega Pangandaran menilai edukasi mengenai penggunaan obat dan pengenalan pemicu penyakit harus berjalan beriringan dengan peningkatan akses layanan medis. Sebab, banyak pasien yang masih menganggap inhaler hanya diperlukan ketika serangan muncul, bukan sebagai bagian dari pengobatan rutin untuk mengontrol peradangan saluran napas.
Di sisi lain, stigma terhadap penderita asma juga masih cukup kuat di masyarakat. Tidak sedikit pasien, khususnya anak-anak dan remaja, yang merasa harus membatasi aktivitas fisik karena takut mengalami serangan mendadak. Padahal, dengan pengelolaan yang baik, penderita asma tetap dapat berolahraga, bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sosial secara normal.
Melalui kampanye digital bertajuk “Salam Sehat dan Bahagia”, RSUD Pandega mencoba mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyakit asma. Edukasi kesehatan dilakukan tidak hanya melalui layanan tatap muka di rumah sakit, tetapi juga lewat media sosial dan kanal informasi digital agar menjangkau masyarakat lebih luas.
Rumah sakit daerah itu menekankan bahwa kontrol rutin dan kepatuhan pengobatan merupakan kunci utama untuk mencegah kekambuhan. Pemeriksaan berkala memungkinkan dokter mengevaluasi kondisi pasien, menyesuaikan dosis terapi, serta mendeteksi kemungkinan komplikasi lebih dini.
Untuk mendukung pelayanan tersebut, RSUD Pandega menyiagakan tiga dokter spesialis penyakit dalam yang siap memberikan konsultasi mendalam terkait gangguan pernapasan dan penyakit kronis lainnya. Ketiganya adalah dr. Erisanti Nurfarida, dr. Fenandri Fadillah Fedrizal, dan dr. Dani Pernata.
Jadwal pelayanan disusun mulai Senin hingga Sabtu guna memastikan pasien mendapatkan akses pemeriksaan secara berkelanjutan. Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan penyakit tidak menular di tingkat daerah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan tenaga medis spesialis.
Keberadaan layanan konsultasi rutin dinilai penting karena asma bukan penyakit yang bisa disembuhkan sepenuhnya, melainkan dikendalikan. Tanpa pengobatan yang tepat, serangan asma dapat berkembang menjadi kondisi gawat darurat yang mengancam keselamatan pasien.
Dalam sejumlah kasus berat, penderita bahkan memerlukan perawatan intensif akibat kekurangan oksigen. Karena itu, edukasi mengenai tanda bahaya serangan asma menjadi bagian penting dalam kampanye kesehatan yang dilakukan RSUD Pandega.
Selain terapi medis, pasien juga didorong untuk menerapkan pola hidup sehat sebagai langkah pencegahan. Menghindari asap rokok, menjaga kebersihan lingkungan rumah, menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk, serta rutin berolahraga ringan menjadi beberapa langkah sederhana yang dianjurkan.
Dokter juga mengingatkan bahwa kesehatan mental memiliki hubungan erat dengan kontrol penyakit asma. Kecemasan dan stres berlebih dapat memicu serangan pada sebagian pasien. Karena itu, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar penderita tidak merasa terisolasi atau kehilangan kepercayaan diri.
Di tingkat global, penyakit asma masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat. Organisasi kesehatan dunia mencatat jutaan orang hidup dengan asma, termasuk anak-anak usia sekolah yang rentan mengalami gangguan aktivitas belajar akibat serangan berulang. Di Indonesia, angka penderita asma juga masih cukup tinggi, terutama di wilayah perkotaan dengan tingkat polusi udara yang meningkat.
Situasi tersebut membuat kampanye edukasi kesehatan seperti yang dilakukan RSUD Pandega Pangandaran menjadi semakin penting. Rumah sakit daerah tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, tetapi juga pusat edukasi publik untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan penyakit.
Melalui momentum Hari Asma Sedunia 2026, RSUD Pandega berharap masyarakat semakin memahami bahwa asma bukan vonis yang harus ditakuti. Dengan diagnosis yang tepat, terapi teratur, dan dukungan lingkungan yang baik, pasien tetap memiliki kesempatan menjalani hidup sehat dan produktif.
Di balik kampanye tersebut, tersimpan harapan lebih besar mengenai penguatan tata kelola penyakit tidak menular di daerah. Upaya memperluas akses layanan kesehatan, meningkatkan edukasi publik, dan memperkuat peran tenaga medis diharapkan mampu menekan risiko komplikasi penyakit kronis di masyarakat.
Bagi para penyintas asma, pesan itu membawa optimisme baru: bahwa bernapas lega bukan sekadar harapan, melainkan hak setiap orang yang dapat diwujudkan melalui pelayanan kesehatan yang merata, edukasi yang berkelanjutan, dan kepedulian bersama. (**)






