PANGANDARAN, JurnalMedia — Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan bukan menjadi alasan bagi tubuh untuk menjadi lemas dan tidak produktif. Perubahan pola makan dan waktu tidur yang drastis memang menjadi tantangan tersendiri bagi metabolisme tubuh. Namun, dengan strategi yang tepat, kesehatan fisik justru dapat meningkat selama bulan suci ini.
Para praktisi kesehatan menekankan bahwa kunci utama menjaga kebugaran selama berpuasa terletak pada kedisiplinan dalam mengatur asupan nutrisi dan pola istirahat. Setidaknya terdapat empat rahasia utama yang wajib diperhatikan agar aktivitas harian tidak terganggu meski sedang menahan lapar dan dahaga.
Pada halaman media sosial resmi, RSUD Pandega menyampaikan, poin pertama yang paling krusial adalah tidak melewatkan waktu sahur. Sahur memiliki fungsi vital sebagai fondasi energi untuk menjalani hari. Disarankan agar menu sahur diperkaya dengan karbohidrat kompleks dan serat tinggi agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan pelepasan energi terjadi secara bertahap.
“Melewatkan sahur sangat tidak disarankan karena tubuh membutuhkan cadangan energi untuk beraktivitas selama kurang lebih 13 hingga 14 jam. Tanpa sahur, kadar gula darah bisa turun drastis di siang hari yang menyebabkan pusing dan lemas,” tulisnya.
Selain asupan makanan, mencegah dehidrasi adalah prioritas utama. Mengingat waktu minum yang terbatas, masyarakat diimbau untuk menerapkan pola minum yang teratur.
Strategi yang umum disarankan oleh ahli kesehatan adalah pola 2-4-2. Pola ini mencakup dua gelas air putih saat berbuka, empat gelas air yang dicicil sepanjang malam hingga menjelang tidur, dan dua gelas air saat sahur. Cara ini dinilai efektif untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh harian sebanyak dua liter dan mencegah dehidrasi di siang hari yang panas.
Tantangan lain selama Ramadan adalah berkurangnya waktu tidur karena aktivitas ibadah malam dan bangun lebih awal untuk sahur. Kurang tidur dapat menurunkan imunitas tubuh secara signifikan.
Oleh karena itu, pengaturan pola tidur menjadi sangat penting. Masyarakat disarankan untuk memajukan waktu tidur malam lebih awal dari biasanya. Selain itu, menyempatkan tidur siang singkat (power nap) selama 20-30 menit juga sangat membantu mengembalikan kesegaran tubuh tanpa mengganggu ritme tidur malam.
Kesalahan paling umum yang sering terjadi adalah perilaku “kalap” atau makan berlebihan saat waktu berbuka tiba. Fenomena “balas dendam” ini justru berbahaya bagi kesehatan pencernaan.
Mengonsumsi makanan dalam porsi besar secara tiba-tiba dapat mengejutkan lambung yang telah kosong seharian, menyebabkan begah, hingga lonjakan gula darah yang memicu kantuk berlebih saat ibadah tarawih.
Disarankan untuk berbuka secara bertahap, dimulai dengan air putih dan makanan manis alami seperti kurma, sebelum masuk ke menu utama setelah jeda salat Magrib.
Dengan menerapkan keempat langkah disiplin ini—sahur yang bergizi, hidrasi cukup, istirahat teratur, dan pengendalian diri saat berbuka masyarakat diharapkan dapat menjalani ibadah Ramadan dengan kondisi fisik yang prima dan bugar hingga hari kemenangan tiba. (**)






