PANGANDARAN, JurnalMedia – Banjir bukan hanya membawa kerugian materi, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai pascabanjir adalah Leptospirosis, penyakit infeksi yang kerap muncul setelah genangan air surut.
RSUD Pandega Pangandaran melalui laman media sosialnya terus mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan guna melindungi diri dan keluarga dari penyakit ini.
Apa Itu Leptospirosis?
Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri ini hidup di ginjal hewan, terutama tikus, dan dikeluarkan melalui urine. Saat banjir, urine hewan yang terinfeksi dapat bercampur dengan air dan tanah, sehingga meningkatkan risiko penularan kepada manusia.
Penularan Leptospirosis umumnya terjadi ketika bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka di kulit, kulit yang lecet, atau selaput lendir seperti mata, hidung, dan mulut. Aktivitas membersihkan rumah, berjalan di genangan air, atau kontak langsung dengan lumpur pascabanjir menjadi faktor risiko utama.
Mengapa Leptospirosis Perlu Diwaspadai?
Leptospirosis bukan penyakit ringan. Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat berkembang menjadi kondisi serius yang menyerang organ vital seperti ginjal, hati, paru-paru, bahkan otak. Jika tidak ditangani dengan cepat, Leptospirosis dapat berakibat fatal.
Gejala awal sering kali mirip dengan penyakit lain, seperti:
-
Demam tinggi mendadak
-
Sakit kepala
-
Nyeri otot, terutama di betis dan punggung
-
Mual, muntah, dan diare
-
Mata merah
-
Tubuh terasa sangat lemas
Karena gejalanya tidak khas, banyak penderita terlambat mendapatkan penanganan medis. Oleh sebab itu, pencegahan menjadi langkah paling penting.
Tips Mencegah Tertular Leptospirosis Setelah Banjir
RSUD Pandega Pangandaran membagikan sejumlah tips praktis yang dapat dilakukan masyarakat untuk menurunkan risiko penularan Leptospirosis pascabanjir:
1. Hindari Kontak Langsung dengan Air Banjir
Sebisa mungkin, hindari berjalan atau bermain di genangan air banjir, terutama jika terdapat luka di kulit. Air banjir berpotensi besar terkontaminasi urine tikus dan hewan lainnya.
Jika terpaksa harus beraktivitas di area tergenang, pastikan menggunakan alat pelindung diri yang memadai.
2. Gunakan Alat Pelindung Diri
Saat membersihkan rumah, saluran air, atau lingkungan pascabanjir:
-
Gunakan sepatu bot karet
-
Pakai sarung tangan tahan air
-
Gunakan pakaian lengan panjang dan celana panjang
Alat pelindung diri membantu mencegah bakteri masuk melalui kulit.
3. Tutup dan Rawat Luka dengan Baik
Luka sekecil apa pun dapat menjadi pintu masuk bakteri. Pastikan:
-
Menutup luka dengan plester atau perban tahan air
-
Membersihkan luka menggunakan air bersih dan antiseptik
-
Segera mengganti perban jika basah atau kotor
Jika memiliki luka terbuka yang cukup besar, sebaiknya hindari kontak dengan air banjir sama sekali.
4. Jaga Kebersihan Diri Setelah Beraktivitas
Setelah melakukan aktivitas di luar rumah atau membersihkan lingkungan pascabanjir:
-
Segera mandi menggunakan sabun dan air bersih
-
Bersihkan kuku dan lipatan kulit
-
Ganti pakaian yang terkena air banjir
Kebersihan diri yang baik dapat mengurangi risiko bakteri bertahan di tubuh.
5. Kendalikan Populasi Tikus di Lingkungan
Tikus merupakan sumber utama bakteri Leptospira. RSUD mengimbau masyarakat untuk:
-
Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan
-
Menutup tempat sampah dengan rapat
-
Tidak membiarkan sisa makanan berserakan
-
Menutup lubang atau celah yang menjadi jalan masuk tikus
Lingkungan yang bersih dan tertata akan mengurangi tempat berkembang biaknya tikus.
6. Pastikan Air dan Makanan Aman
Pascabanjir, kualitas air bersih sering kali menurun. Oleh karena itu:
-
Gunakan air matang untuk minum dan memasak
-
Cuci bahan makanan dengan air bersih yang aman
-
Simpan makanan di tempat tertutup
-
Buang makanan yang terendam air banjir
Langkah ini penting untuk mencegah berbagai penyakit, termasuk Leptospirosis.
7. Waspadai Gejala dan Segera Periksa ke Fasilitas Kesehatan
Jika mengalami demam atau keluhan lain setelah terpapar air banjir, jangan menunda untuk memeriksakan diri ke puskesmas atau RSUD terdekat. Informasikan kepada tenaga kesehatan bahwa Anda memiliki riwayat kontak dengan air banjir.
Deteksi dan pengobatan dini dengan antibiotik yang tepat dapat mencegah komplikasi serius.
Peran Masyarakat dan Pemerintah Daerah
Pencegahan Leptospirosis tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara masyarakat, tenaga kesehatan, dan pemerintah daerah, terutama dalam:
-
Perbaikan sanitasi lingkungan
-
Pengelolaan sampah yang baik
-
Edukasi kesehatan berkelanjutan
-
Penanganan banjir yang cepat dan tepat
RSUD terus berkomitmen memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif.
Leptospirosis adalah ancaman nyata pascabanjir yang sering kali luput dari perhatian. Dengan memahami cara penularan dan menerapkan langkah pencegahan sederhana, masyarakat dapat melindungi diri dan keluarga dari penyakit ini.
RSUD mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak ragu mencari pertolongan medis bila mengalami gejala mencurigakan. Kesehatan adalah investasi utama, dan pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. (*)






